Dramatisasi terjadi di Pantai Parangtritis ketika seorang wisatawan asal Jakarta, Budi Santoso (35), terseret ombak ganas saat bermain air di zona terlarang. Insiden berawal saat korban mengabaikan rambu peringatan dan nekat berenang di area dengan gelombang setinggi 3 meter. Tim SAR Gabungan (Basarnas, Polairud, dan Relawan Parangtritis) langsung bergerak cepat setelah menerima laporan darurat. Dalam kondisi cuaca buruk dengan angin kencang, tim penyelamat menggunakan perahu karet dan jet ski untuk menjangkau korban yang terbawa arus sejauh 200 meter dari bibir pantai. Aksi dramatis ini menjadi perhatian ratusan pengunjung yang menyaksikan dari tepi pantai dengan campuran cemas dan harap.
Proses evakuasi berlangsung penuh tantangan. Kepala Basarnas Yogyakarta, Agus Wijaya, menjelaskan bahwa korban berhasil ditemukan dalam keadaan setengah sadar setelah 20 menit pencarian. “Kunci kesuksesan operasi ini adalah koordinasi tim dan penggunaan alat pelacak GPS di perahu penyelamat,” ujarnya. Setelah berhasil ditarik ke perahu, korban langsung mendapat pertolongan pertama di posko darurat yang didirikan di tepi pantai. Sementara itu, tim lainnya melakukan pengamanan area dengan mengimbau wisatawan lain untuk menjauh dari zona berbahaya. Insiden ini menjadi pengingat betapa pentingnya mematuhi aturan keselamatan di pantai terkenal dengan ombaknya yang liar ini.
Pasca insiden, pengelola wisata Parangtritis langsung menggelar rapat evaluasi untuk memperketat pengamanan. Beberapa langkah segera diambil: penambahan 10 pos pantau di sepanjang garis pantai, pemasangan loudspeaker untuk peringatan otomatis, dan pelatihan relawan penjaga pantai. Kepala Desa Parangtritis, Suharto, menegaskan bahwa keselamatan wisatawan adalah prioritas utama. “Kami akan terus sosialisasikan aturan bermain air, terutama saat pasang. Pantai ini indah tapi juga mematikan jika tidak dihormati,” katanya. Budi Santoso, korban selamat, menyampaikan terima kasih kepada tim SAR dan berjanji akan menjadi duta keselamatan pantai. “Saya sangat bersalah dan bersyukur diberi kesempatan kedua. Pengalaman ini mengubah hidup saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
